Selamat Datang di Uchavision Semoga Bermanfaat | Pasang Iklan Baris Gratis

Friday, July 4, 2014

Model Pembelajaran Simulasi

Model Pembelajaran Simulasi -
Simulai menurut (Hasibuan dan Moejiono, 2008:27) adalah tiruan atau perbuatan yang hanya berpura-pura saja. (dari kata Simulate yang artinya berpura-pura atau berbuat seolah-olah, dan Simulation artinya : tiruan atau perbuatan yang pura-pura saja). Simulasi dapat berupa role playing, psikodrama, sosiodrama dan permainan.
Sosiodrama (role playing) berasal dari kata sosio dan drama. Sosio berarti sosial menunjuk pada obyeknya yaitu masyarakat menunjukkan pada kegiatan-kegiatan sosial, dan drama berarti mempertunjukkan, mempertontonkan atau memperlihatkan. sosial atau masyarakat terdiri dari manusia yang satu sama lain terjalin hubungan yang dikatakan hubungan social. Metode sosiodrama berarti cara menyajikan bahan pelajaran dengan mempertunjukkan dan mempertontonkan atau mendramatisasikan cara tingkah laku dalam hubungan sosial. Jadi sosiodrama adalah metode mengajar yang mendramatisasikan suatu situasi sosial yang mengandung suatu problem, agar peserta didik dapat memecahkan suatu masalah yang muncul dari suatu situasi sosial (Sagala, 2009:213). Berdasarkan pengertian di atas metode pembelajaran simulasi ada yang menyebutkan dengan metode pembelajaran sosiodrama.
Tujuan bermain peranan, sesuai dengan jenis belajar menurut Hamalik (2008:199) adalah :
Belajar dengan berbuat. Para siswa melakukan peranan tertentu sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya. Tujuannya untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan interaktif atau keterampilan-keterampilan reaktif.
2.      Belajar melalui peniruan (imitasi). Para siswa pengamat drama menyamakan diri dengan pelaku (aktor) dan tingkah laku mereka.
3.      Belajar memalui balika. Para pengamat mengomentari (menanggapi) perilaku para pemain/pemegang peran yang telah ditampilkan. Tujuannya untuk mengembangkan prosedur-prosedur kognitif dan prinsip-prinsip yang mendasari perilaku keterampilan yang telah didramatisasikan.
4.      Belajar melalui pengkajian, penilaian, dan pengulangan. Para peserta dapat memperbaiki keterampilan-keterampilan mereka dengan mengulanginya dalam penampilan berikutnya.
Teknik simulasi digunakan dalam semua sistem pengajaran, terutama dalam desain instruksional yang berorientasi pada tujuan-tujuan tingkah laku. Latihan-lathian keterampilan menuntut praktik yang dilaksanakan di dalam situasi kehidupan nyata (dalam pekerjaan tertentu), atau dalam situasi simulasi yang mengandung ciri-ciri situasi kehidupan senyatanya. Latihan-latihan dalam bentuk simulasi pada dasarnya berlatih melaksanakan tugas-tugas yang akan dihadapi dalam kehidupan sehari-hari (Hamalik, 2005:196).
Metode simulasi, menurut Hasibuan dan Moedjiono (2008:27) memiliki beberapa kelebihan, (a) menyenangkan, sehingga siswa secara wajar terdorong untuk berpartisipasi; (b) menggalakkan guru untuk mengembangkan aktivitas simulasi; (c) memungkinkan eksperimen berlangsung tanpa memerlukan lingkungan yang sebenarnya; (d) memviusalkan hal-hal yang abstrak; (e) tidak memerlukan keterampilan komunikasi yang pelik; (f) memungkinkan terjadinya interaksi antarsiswa; (g) menimbulkan respon yang positif dari siswa yang lamban, kurang cakap dan kurang motivasi; (h) melatih berpikir kritis karena siswa terlibat dalam analisa proses, kemajuan simulasi. Sedangkan kelemahannya antara lain (a) efektivitasnya dalam memajukan belajar belum dapat dilaporkan oleh riset; (b) validitas simulasi masih banyak diragukan orang; (c) menuntut imajinasi dari guru dan siswa.
Prinsip-prinsip Simulasi
1.      Dilakukan oleh kelompok siswa, tiap kelompok mendapat kesempatan melaksanakan simulasi yang sama atau dapat juga berbeda;
2.      Semua siswa harus terlibat langsung menurut peranan masing-masing;
3.      Penentuan topic disesuaikan dengan tingkat kemampuan kelas, dibicarakan oleh siswa dan guru;
4.      Petunjuk simulasi diberikan terlebih dahulu;
5.      Dalam simulasi seyogianya dapat dicapai tiga domain psikis;
6.      Dalam simulasi hendaknya digambarkan situasi yang lengkap;
7.      Hendaknya diusahakan terintegrasikannya beberapa ilmu (Hasibuan dan Moedjiono, 2008:27).
Langkah-langkah Pelaksanaan Simulasi
Yang harus kita perhatikan dalam simulasi agar berhasil dengan baik adalah langkah-langkah yang harus ditempuh dalam simulasi, yaitu :
1.      Penentuan topic dan tujuan simulasi;
2.      Guru memberikan gambaran secara garis besar situasi yang akan disimulasikan;
3.      Guru memimpin pengorganisasian kelompok, peranan-peranan yang akan dimainkan, pengaturan ruangan, pengaturan alat, dan sebagainya;
4.      Pemilihan pemegang peranan;
5.      Guru memberikan keterangan tentang peranan yang akan dilakukan;
6.      Guru member kesempatan untuk mempersiapkan diri kepada kelompok dan pemegang peranan;
7.      Menetapkan lokasi dan waktu pelaksanaan simulasi;
8.      Pelaksanaan simulasi;
9.      Evaluasi dan pemberian balikan;
10.  Latihan ulang (Hasibuan dan Moedjiono, 2008:27-28).

Kebaikan Metode Sosiodrama
Metode sosiodrama menurut Mansyur (1996:104) memiliki kebaikan seperti :
1.      Murid melatih dirinya untuk melatih, memahami, dan mengingat bahaya yang akan didramakan;
2.      Murid akan terlatih untuk berinisiatif dan berkreatif;
3.      Bakat yang terpendam pada murid akan dapat dipupuk sehingga dimungkinkan akan muncul atau timbul bibit seni dari sekolah;
4.      Kerja sama antara pemain dapat ditumbuhkan dan dibina dengan sebaik-baiknya;
5.      Murid memperoleh kebiasaan untuk menerima dan membagi tanggung jawab dengan sesamanya;
6.      Bahasa lisan murid dapat dibina menjadi bahasa yang baik agar mudah dipahami orang lain.
Kelemahan Metode Sosiodrama
1.      Sebagian besar anak yang tidak ikut bermain drama mereka menjadi kurang aktif;
2.      Banyak memakan waktu, persiapan, pemahaman isi bahan pelajaran, dan pelaksanaan pertunjukkan;
3.      Memerlukan tempat yang cukup luas;
4.      Kelas lain sering terganggu oleh suara pemain dan penonton (Sagala, 2009:213-214).
Mengatasi Kelemahan Metode Sosiodrama
1.      Guru harus menerangkan kepada siswa, untuk memperkenalkan metode ini, bahwa dengan jalan sosiodrama siswa dapat diharapkan dapat memecahkan masalah hubungan sosial yang actual di masyarakat. Kemudia guru menunjuk beberapa siswa yang berperan, masing-masing akan mencari masalah sesuai dengan perannya, dan siswa yang lain menjadi penonton dengan tugas-tugas tertentu pula;
2.      Guru harus memilih masalah yang urgen sehingga menarik minat anak. Ia dapat menjelaskan dengan baik dan menarik, sehingga siswa terangsang untuk memecahkan masalah ini;
3.      Agar siswa memahami peristiwa, maka guru harus bias menceritakan sambil mengatur adegan pertama;
4.      Bobot atau luasnya bahan pelajaran yang akan didramakan harus sesuai dengan waktu yang tersedia (Sagala, 2009:214).

Anda Mungkin Menyukai:

2 comments:

> Berkomentar yang bijak ya sob.
> No Sara
> Ane berhak menghapus pesan yang gak masuk akal

Cek Resi Kiriman Anda