Selamat Datang di Uchavision Semoga Bermanfaat | Pasang Iklan Baris Gratis

Friday, May 15, 2015

Kegiatan Belajar 1 Perkembangan Moral Anak Usia Dini (Universitas Terbuka)

KEGIATAN BELAJAR 1
HAKIKAT MORAL, MORALITAS, ETIKA DAN TAHAPAN PERKEMBANGAN MORAL ANAK USIA DINI

A.    HAKIKAT MORAL, MORALITAS, ETIKA
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (2008)
-          Moral adalah memiliki makna akhlak/tingkah laku yang susila.
-          Moralitas adalah dengan kesusilaan.
-          Etika adalah tata susila/cabang filsafat yang membantu/menyelidiki nilai-nilai dalam tindakan/perilaku/akhlak manusia.
Ketiga istilah tersebut memberikan gambaran bahwa yang menjadi pembahasan adalah masalah aturan berperilaku dalam kehidupannya.

B.     TAHAPAN POLA PERKEMBANGAN MORAL ANAK USIA 3-4 TAHUN MENURUT PARA ahli
Ruang tingkat pola perkembangan moral anak meliputi :
-          Kejiwaan manusia dalam menginternalisasi nilai moral kepada dirinya sendiri.
-          Memersonalisasi & mengembangkan dalam pembentukan pribadi yang mempunyai prinsip, serta mematuhi, melaksanakan/menentukan pilihan, menyingkapi menilai/melakukan tindakan nilai moral.
Fawzia menjelaskan bahwa pokok pertama yang terpenting dalam pendidikan moral adalah menjadi pribadi yang bermoral dalam arti seorang anak dapat belajar apa yang diharapkan kelompoknya.
1.      Perkembangan Moral Anak menurut Plaget
Memfokuskan diri pada aspek cara berfikir anak tentang isu-isu moral. Cara yang dilakukannya adalah mengamati, mewawancarai kelompok anak usia 4-12 tahun yang terlibat dalam suatu permainan dengan mengajukan pertanyaan tentang isu-isu moral seperti pencurian, berbohong, hukuman, keadilan.
Anak berfikir tentang moralitas ada 2 tahap yaitu :
1)      Tahap moralitas heteronomous (heteronomous Morality)
Terjadi pada usia 4-7 tahun, anak menganggap keadilan & aturan sebagai sifat dunia (lingkungan) yang tidak berubah & lepas dari kendali manusia.
2)      Tahap sekitar usia 10 tahun keatas
Anak sudah menyadari bahwa aturan-aturan & hukum itu diciptakan oleh manusia.
2.      Perkembangan Moral menurut Kohlberg
Kohlberg memilih mempelajari alas an yang mendasar respons-respons moral/memilih untuk mendalami struktur proses berfikir yang terlibat dalam penalaran moral.
3 Level/tingkatan perkembangan penalaran moral
1)      Level 1 = Penalaran Moral Prakonvensional
(meliputi tahap orientasi hukuman & kepatuhan serta tahap orientasi individualism & orientasi instrumental).
2)      Level 2 = Penalaran Moral Konvensional
Meliputi tahap orientasi konformitas interpersonal serta tahap orientasi hukum & aturan
3)      Level 3 = Penalaran Moral Pascakonvensional
(meliputi tahap orientasi kontrak sosial & tahap orientasi etis universal).
Pada anak usia dini yang dipelajari level 1, disini pengalihan/penalaran moral anak dikendalikan oleh faktor eksternal yaitu ganjaran & hukuman yang bersifat fisik.
Level 1 dibagi dalam 2 tahap yaitu :
1)      Orientasi hukuman & kepatuhan (punishment and obedience orientation)
Suatu tindakan dinilai benar/salah tergantung dan akibat hukuman yang berkaitan dengan kegiatan tersebut.
2)      Pengertian orientasi individualism & orientasi tujuan instrumental
Suatu tindakan dinilai benar bila berkaitan dengan kejadian eksternal yang memuaskan kebutuhan-kebutuhan dirinya/kebutuhan seseorang yang sangat dekat hubungannya
Menurut Fawzia (2003) ada 4 area perkembangan yang perlu ditingkatkan yaitu fisik, sosial emosional, kognitif, bahasa.
Khusus perkembangan sosial emosional hal ini perlu dikembangkan dengan tujuan :
1.      Mengetahui diri sendiri & hubungannya dengan orang lain yaitu teman sebaya & orang dewasa.
2.      Bertanggung jawab terhadap diri sendiri ataupun orang lain.
3.      Berperilaku sesuai dengan perilaku prasosial.
3.      Perkembangan Moral menurut Thomas Lickona
Diperlukan 3 proses pembinaan yang berkelanjutan untuk emndidik moral anak sampai pada tataran moral action yaitu :
1)      Mulai dari proses moral knowing
2)      Moral feeling
3)      Moral action

C.    TAHAPAN PERKEMBANGAN MORAL ANAK USIA 5-6 TAHUN MENURUT
Pada usia 5-6 tahun perkembangan yang ada cenderung lebih bersifat matang dan meningkat.
Tujuan pendidikan anak usia dini adalah mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Standar kompetensi anak usia dini adalah standar kemampuan anak usia 0-6 tahun yang didasarkan sebagai acuan dalam mengembangkan kurikulum anak usia dini, yang terdiri dari aspek moral dan nilai-nilai agama, sosial emosional, kemandirian, bahasa, kognitif, fisik motorik, seni.
Secara prinsip, perkembangan dasar dari aspek pengembangan moral dan nilai-nilai agama sebagai berikut :
1.      Dapat mengucapkan bacaan doa dan lagu keagamaan secara sederhana.
2.      Dapat meniru gerakan ibadah secara sederhana.
3.      Dapat mengenal dan menyayangi ciptaan tuhan.
4.      Dapat mengenal sopan santun dan mulai berperilaku saling menghormati sesama.


KEGIATAN BELAJAR 2
DISONANSI MORAL

A.    KONSEP DISONANSI MORAL
Pendidikan akan sangat berarti bagi anak didik jika mampu membuahkan hasil menuju perubahan sikap dan tingkah laku yang positif. Ketiga tenaga dalam itu, menurut istilah psikologi dikenal dengan id, ego dan superego.
Id memiliki pengertian suatu dorongan yang berasal dari diri seseorang untuk mendahulukan rasa, enak, mencapai kenikmatan dan nafsu belakan.
Ego adalah suatu dorongan/tenaga dalam yang berasal dari jiwa/diri seseorang yang berfungsi menyembangkan kemauan atau dorongan yang bersumber Id.
Superego adalah dorongan/tenaga dalam yang berfungsi sebagai alat control terhadap seluruh dorongan yang berasal dari kemauan Id. Kontrol dari superego ini berasal dari ajaran agama, moral/norma yang diterima manusia, disonansi moral (penanaman moral dan etika).

B.     PENGERTIAN DISONANSI DAN RESONANSI
Disonansi dipakai dalam dunia pendidikan, khususnya yang terkait dengan pendidikan nilai norma dan moral. Disonansi menekankan pada pengurangan/penurunan gema/getar ajaran nilai, norma dan moral yang ada pada diri seseorang. Sementara resonansi justru mengukuhkan/menekankan adanya gema atau getar nilai, norma dan moral yang telah diketahui seseorang dari proses pendidikan sebelumnya.

C.    PEMBAHASAN
Disonansi yang berarti gema atau echo ada pada diri manusia dan bersifat melemahkan suara hati dan prinsip serta keyakinan dalam proses pendidikan ataupun dalam kehidupan.
Dari sudut pendidikan nilai, moral, dan norma, eksistensi disonansi adalah gema yang akan berusaha menentang masuknya serta menginternalisasi pendidikan dan pengetahuan nilai moral dan norma tersebut ke dalam proyeksi afektual para siswa karena itu keberadaan disonansi ini diistilahkan dengan counter cultural values (penghalang masuknya/dihayatinya nilai-nilai budaya kehidupan).
Menurut Sigmund Freud (dalam fawzia 1996.27) kehidupan seseorang dikuasai oleh energi mental atau psikisnya yang disebut libido prinsip kesenangan dan prinsip realitas.
Libido manusia, lebih lanjut Freud menjelaskan berpusat pada zona-zona tertentu. Daerah dimana libido itu sedang terkonsentrasi atai terpusat ikut menentukan bentuk atau jenis rangsangan yang dapat memeuaskan seseorang.
Menurut Freud dalam kaitannya dengan hal menggunakan pendekatan structural ini, diri manusia memiliki struktur psikologi yang bertugas mengalirkan dorongan-dorongan atau energi psikis yang ada. Struktur ini berfungsi sebagai mediator (perantara) antara dorongan dan perilaku. Ada 3 struktur utama pada diri manusia yaitu Id, ego dan superego. Secara umum Id yang telah ada sejak kelahiran manusia merupakan sumber dorongan dan motif yang tidak disadari yang bertindak atas dasar kesenangan, serta dipuaskan secara langsung.
Jadi Id adalah sumber dan tempat dari dorongan biologis sementara ego adalah mekanisme untuk beradaptasi terhadap realitas, karena itu ego merepresentasikan akal budi/akal sehat. Yang mulai berkembang pada tahun-tahun pertama kehidupan, kemudian bertindak atas dasar prinsip realitas dan mencari cara yang dapat diterima dalam pemuasan kebutuhan. Ego juga bertindak sebagai mediator antara Id dan superego. Superego dapat dianalogikan dengan hati nurani superego mewakili nilai-nilai yang ada dalam masyarakat yang disampaikan oleh orang tua atau anggapan masyarakat lainnya.

D.    FAKTOR-FAKTOR MUNCULNYA DISONANSI
Ada empat faktor utama yang menyebabkan munculnya disonansi pada diri seorang manusia, keempat faktor tersebut adalah disonansi kognitif, disonansi personal disonansi sosiopotis, serta disonansi bawaan ilmu pengetahuan dan pola modernisasi.
1.      Disonansi Kognitif
Dorongan yang muncul itu berasal dari pemahaman ilmu atau pengetahuan yang sangat mantap/mapan, kuat, serta komprehensif yang dimiliki seseorang. Hal ini ditambah pola berpikir yang sepenuhnya menggunakan akal sehat dan bersifat rasional.
Dasar pertimbangannya adalah ia merasa lebih tahu segalanya mengetahui cara/jalan keluarnya jika suatu saat perbuatannya diketahui orang dan merasa lihai dalam merekayasa alasan.
2.      Disonansi Personal
Faktor disonansi yang kedua ini muncul karena didorong oleh hal-hal berikut : kebutuhan dan kepentingan diri, ketergesaan dan keadaan darurat. Kekerabatan dan keluarga, keyakinan diri dan mitos, kebiasaan dan budaya tugas dan jabatan serta hasrat untuk sukses dan kesenangan.
Contoh yang dapat menggambarkan hal-hal tersebut dapat
a.       Seseorang yang atas dasar kebutuhan dan kepentingan dirinya (needs and intersts) mampu berbuat hal negatif apa saja asalkan keinginannya terpenuhi missal keinginan untuk merebut mainan.
b.      Seseorang dalam ketergesaan dan keadaan darurat (immediacy and emergency) mampu bertindak hal yang negatif kapan saja dimana saja. Missal menyerobot antrean ketika mau makan walaupun dilarang oleh guru.
c.       Seseorang atas dasar kekerabatan dan keluarga (lanship and family) bisa berbuat hal yang negatif untuk memenuhi kebutuhan dirinya, membela saudaranya ketika bertengkar.
d.      Seseorang yang memiliki keyakinan diri dan mitos (belief and mythc) mampu bertindak apa saja termasuk hal yang negatif dan terlarang. Missal anak minta diantar ke kamar mandi karena takut.
e.       Seseorang dengan kebiasaan dan budaya (habit and culture) bisa mengarah pada perbuatan yang negatif  dan kurang baik. Missal anak yang dilingkungan keluarganya tidak pernah ditegur ketika berbuat salah.
f.       Seseorang atas dasar tugas dan jabatannya (job and function) dapat menyalahgunakan hal demi pemenuhan kebutuhan dirinya.
g.      Seseorang hanya atas hasrat untuk sukses dan rasa senang bisa saja melanggar aturan nilai, norma dan moral yang berlaku dalam kehidupannya. Misalnya mengakui hasil karya temannya.
3.      Disonansi Sosiopolitis
Hal yang memungkinkan munculnya disonansi dalam kaitan ini meliputi idelogi, ras, kesukuan, nasionalisme.
4.      Disonansi berdasarkan bawaan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekonologi serta pola modernisasi
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki implikasi ganda yaitu bersifat positif dan negatif. Anak usia dini saat ini sangat mudah mengakses apapun yang dia inginkan dahan ini mendukung percepatan kearah yang positif disisi lain secara tidak langsung hal itu dapat mematikan sifat kreativitas dan moralitas diri anak.

E.     PENANGGULANGAN DAN PENCEGAHAN DISONANSI MORAL SECARA UMUM
Untuk mencegah disonansi perlukan tindakan antisipatif sebagai berikut :
1.      Menyiasati lingkungan saat anak beraktivitas, misalnya : lingkungan yang edukatif.
2.      Menyiapkan alternatif pilihan kesenangan anak sebagai upaya pengalihan perhatian dan keiginannya.
3.      Menyusun strategi agar berbagai pengaruh yang masuk kedalam kehidupan anak senantiasa tersaring dan terkendali oleh orang tua, masyarakat luas dan pengambil kebijakan.
4.      Menumbuhkan sikap proaktif dan kolaboratif dengan seluruh elemen masyarakat untuk senantiasa peduli terhadap berbagai pengaruh negatif dari perjalanan zaman saat ini yang dapat merugikan moralitas anak bangsa Indonesia.


F.     PENANGGULANGAN DAN PENCEGAHAN DISONANSI MORAL PADA ANAK USIA DINI
Upaya penanggulangan dan pencegahan yang mungkin dapat kita lakukan untuk mencaga anak usia dini dapat dilihat dibawah ini :
1.      Hindari atau meminimalisasi anak untuk mengetahui perbuatan keji dan buruk secara langsung.
2.      Biasakan anak melakukan aktivitas terprogram untuk memenuhi seluruh aspek perkembangan dirinya. Seperti program yang dapat menstimulasi kecerdasan akademiknya (belajar mengenal warna, kendaraan, manusia, do’a-do’a pendek) pengembangan bahasa dan seni (berbicara dengan baik, tenang, jelas dan sistematis) mengungkapkan pendapat dan perasaanya.
3.      Dekatkan anak dengan aktivitas positif yang dilakukan orang dewasa seperti mencuci tangan sebelum makan gosok gigi sesudah makan.
4.      Kenalkan anak dengan aturan hidup bernuansa moral dan nilai-nilai agama seperti anjuran berbuat baik berbakti kepada kedua orang tua.

G.    PERAN GURU ANAK USIA DINI DALAM MENANGGULANGI DAN MENCEGAH TERJADINYA DISONANSI MORAL
Menurut versi Neo Humanist Education (1999) pendidikan neohumanis memberikan pendidikan kepada seluruh bagian yang membentuk anak itu, bukan hanya menghafalkan seluruh bagian yang membentuk anak itu bukan hanya menghafalkan informasi dan menjelasknannya kepada anak atau melatih anak-anak untuk menjadi robot agar guru menjadi senang karena anak itu akan mengeluarkan jawaban-jawaban yang dikehendaki.

H.    DISONANSI MORAL PADA ANAK USIA DINI
Disonansi moral (adalah gema yang merupakan hambatan yang akan berusaha menentang masuknya serta menginternalisasi pendidikan dan pengetahuan nilai moral, dan norma tersebut kedalam proyeksi afektual para siswa).
Bentuk-bentuk disonansi moral yang mungkin terjadi di kalangan anak usia dini dilihat dibawah ini :
1.      Terjadinya perubahan keinginan yang tidak sesuai dengan keinginan awal.
2.      Fluktuasinya (naik-turun) semangat dalam mengikuti kegiatan rutin.
3.      Gampang terpengaruh dengan sikap dan perilaku atau hasutan teman sebayanya.
4.      Mudah meniru perkataan, perbuatan, atau kemauan yang dimunculkan oleh teman sebayanya.
5.      Belum dapat diharapkan mampu bersikap konsisten dalam bersikap.


KEGIATAN BELAJAR 3
POLA ORIENTASI MORAL PADA AUDNI

A.      PENGERTIAN ISTILAH
-       Menurut kamus bahasa Indonesia/2008
Pola adalah suatu bentuk/struktur yang tetap yang dapat dibentuk sebagai model yang kita inginkan pada anak TK, mereka punya standar prinsip moral yang universal & unik yang dapat dikembangkan.

B.       HAKEKAT PEMBAHASAN
-       Orientasi moral (menurut peter/1979) = adalah moral position/ketetapan hati yang meliputi 2 hal
a)      Cognitive motivation aspects
b)      Affective motivation aspects
a)      Cognitive motivation aspects = suatu perhitungan antisipatif seseorang terhadap resiko yang muncul.
b)      Affective motivation aspects = perhitungan emosi akibat keputusan yang diambil.

C.      TEORI PERKEMBANGAN MORAL
Teori adalah asumsi yang bersifat ilmiah yang didasari pola piker obyek study & landasan teoritis berdasar jati diri para pakar yang bersangkutan (John Dewey, Kohlberg, Piaget).
·         John Piaget
Rentang perkembangan moral manusia = 2 tahap
1)      Heteromous (usia 2-6 tahun) => pada fase ini anak belum punya pendirian kuat dalam penentuan sikap/masih labil, berdasarkan emosi anak yang menyenangkan/menggantungkan dirinya.
2)      Autonomous ( ±12 tahuhn) => pada usia ini anak telah punya kemampuan dalam menentukan keputusan berdasar pengalaman/pembelajaran akal sehat, pengetahuan. Fase ini disebut agent of just.
-          Menurut Robert Cloes/2000 => pada awal kehidupan anak dibentuk oleh nilai orang dewasa.
-          Menurut pusat pengembangan AUDNI/2003 => anak AUDNI perlu bimbingan latihan pembiasaan terus menerus.
·         Menurut John Dewey
Tahapan perkembangan moral anak meliputi 3 fase :
a)      Memoral/mekonvensional => dipengaruhi impuls bilogis & sosial.
b)      Konvensional => didasari oleh sikap kritis kelompoknya.
c)      Autonomous => moral pada fase ini dilandasi oleh pola pikir sendiri.
-          Memoral/mekonvensional => sangat dipengaruhi dorongan biologis belaka, maka perlu landasar edukatif yang baik.
-          Konvensional => faktor lingkungan sangat mempengaruhi pola pikir dan perilaku. Fase ini penting lingkungan kondusif edukatif & lingkungan positive.
-          Tahap autonomous => pada tahan ini, anak punya pola pikir sendiri (dewasa) yang ditentukan oleh faktor edukatif tahap sebelumnya yang akan menentukan sikap positive/negative.
·         Anak AUDNI. Secara teoritis berada pada fase I & II (prakonvensional dan konvensional).

D.      MORALITAS AUDNI
Sikap perilaku anak AUDNI sangat dipengaruhi oleh proses sosialisasi antara orang tua & anak dalam penanaman & pengembangan perilaku moral yang dilakukan orang tua (Dini P/1996).
1.      Sikap & cara sosialisasi
Setelah usia 2 tahun, sikap, bahasa, fisik motorik mulai berkembang lebih luas, anak perlu contoh dalam berperilaku, bertutur sapa. Perlu pendekatan persuasive/membujuk bila anak berperilaku tidak pantas.
Menurut Kohlberg/dalam teori perkembangan moral anak & aturan perilaku/behavioust, anak berlaku baik agar mendapat pujian, terhindar dari hukuman & dapat diterima oleh lingkungan.
2.      Cara berpakain/penampilan
Orang tua/guru perlu menjelaskan bahwa penampilan seseorang/cara berpakaian dapat  memberi kesan tentang perilaku moral seseorang. Harus sesuai dengan situasi atau kondisi.
3.      Sikap/kebiasaan makan
Ajarkan sejak dini pada anak sejak 2 tahun missal makan dengan tangan kanan, selanjutnya diajarkan untuk memberi kesempatan kepada yang lebih tua untuk mengambil makanan lebih dulu, bila menawarkan, harus sopan dll.
4.      Sikap perilaku yang memperlancar hubungan dengan orang tua
Sikap egois seseorang akan menghambat hubungan dengan orang lain, dapat merugikan/menyakiti.
Contoh, merokok sembarang tempat, menyetel musik keras-keras.
Perilaku ana yang kurang baik, missal anak prasekolah yang senang menendang, memukul dan mengganggu orang/anak lain adalah sikap agresif yang selalu menimbulkan masalah, perlu mendapat perhatian lebih dari orang tua/guru agar kelak tidak berlanjut menjadi perilaku tidak baik.
Perlunya penanaman moral yang bersifat individual, persuatif dan informal/santai => missal diajarkan sholat/membaca Al Qur’an.

E.       POTENSI ANAK SEBAGAI MANUSIA UTUH
Pemberian kesempatan dengan dukungan positive melalui tindakan guru sebagai modal, dapat dilakukan melalui pendekatan yang menyenangkan, memberi kegiatan imaginative serta mandiri.

F.       KEMAMPUAN ANAK DALAM MORALITAS
Menurut Adler/1974 => pendidikan & pengembangan moral anak bertujuan untuk pembentukan kepribadian
Yang meliputi =
-          Dapat beradaptasi di berbagai situasi dengan orang lain di berbagai kultur.
-          Sadar & paham bahwa akhirnya memiliki dasar identitas kultur.
-          Tidak bersikap kaku, dapat bertanggung jawab, terbuka pada perubahan.
Tujuannya  adalah ketrampilan afektif anak untuk merespon orang lain, pengalaman baru, dan perlu atensi anak terhadap pengalaman baru orang disekitarnya.
Robert Coles/2000 => awal kehidupan anak dipengaruhi oleh nilai-nilai orang dewasa, bahkan sebelum dilahirkan.

G.      SUBSTANSI PENGEMBANGAN MORAL AUDNI
Standar kompetensi PAUD/pend.guru TK/Kepmen no58/2009 seorang guru paud harus punya salah 1 kompetensi.
Antara lain = menguasai strategi pengembangan emosi, sosial, moral anak usia dini perlu bantuan beberapa hal =
a.       Pembentukan karakter/formation of character
b.      Pembentukan kepribadian/shaping of personality
c.       Perkembangan sosial/social development

a)      Pembentukan karakter sangat berpengaruh sejak dini, sangat berpengaruh ketika dewasa => unik, kerja keras + tanggung jawab sejak kecil, saat dewasa/besar anak akan berprestasi tinggi.
b)      Pengalaman saat usia dini membentuk pribadi seseorang dan menjadi kontroler penting terhadap kompleksitas pikiran, perasaan dan perilaku seseorang.
c)      Dalam perkembangan sosial
Menurut teori psychology modern :
“pengalaman usia dini memiliki pengaruh kuat terhadap kecakapan seseorang untuk mengembangkan ikatan emosional dengan orang lain.
Dalam relasi paling awal bagaiamana anak belajar memahami bagaimana orang lain/orang tua memperlakukan dirinya atau sebaliknya.
Hal ini akan membentuk perilaku sosial pada saat dewasa nanti.
-            Pada akhirnya guru harus memahami pembentukan, pengembangan, pendidikan moral sangat penting bagi kehidupan anak sampai dewasa.
-            Guru selalu harus paham senantiasa menelitie, berinovasi dan melakukan pengembangan dalam bidang pendidikan.

Anda Mungkin Menyukai:

0 komentar:

Post a Comment

> Berkomentar yang bijak ya sob.
> No Sara
> Ane berhak menghapus pesan yang gak masuk akal

Cek Resi Kiriman Anda