Musim
hujan merupakan masa dimana air tersedia melimpah. Curah hujan yang
tinggi menyebabkan sebagian diantara air hujan tersebut terserap dan
masuk ke dalam lapisan bumi. Lambat laun air resapan tersebut muncul
sebagai mata air. Orang Jawa sering menyebut mata air sebagai tuk atau umbul. Jika beberapa waktu yang lalu saya sempat menuliskan mengenai situs Candi Umbul yang merupakan situs patirtan peninggalan Wangsa Sanjaya, maka pada kesempatan ini saya sengaja ingin bercerita mengenai situs Tuk Mas.

Sebagaimana
namanya, di lokasi situs Tuk Mas yang langsung bisa dilihat dari sisi
bawah adalah sebuah aliran air pada sebuah tebing curam yang mengalir
deras padas suatu saluran miring. Tepat di atas tebing itulah terdapat
perbukitan yang rimbun dengan pepohonan dimana mata air berada. Debit
aliran air tersebut lumayan besar, sehingga pada musim kemaraupun
alirannya tetap besar dan stabil. Air tersebut kemudian ditampung pada
beberapa kolam berukuran sedang. Tampungan kolam itulah yang menjadi
sediaan air baku untuk diolah lebih lanjut menjadi air bersih oleh PDAM
Kota Magelang.
Dalam
beberapa babad cerita yang berkaitan dengan Kerajaan Mataram Kuno, Tuk
Mas sempat disebut-sebut sebagai nama dari ibukota atau kotaraja
kerajaan yang dipimpin oleh Wangsa Syailendra. Sebagaimana diketahui,
pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah diperintah oleh dua
dinasti yang sangat berpengaruh, masing-masing adalah dinasti Sanjaya
yang beraliran Hindu dan dinasti Syailendra yang beragama Budha.
Bukan
sekedar sebuah perkiraan dan dugaan semata, keyakinan bahwa Tuk Mas
merupakan ibukota Mataram yang dipimpin Wangsa Syailendra konon berasal
dari beberapa petunjuk dari prasasti yang ditemukan di situs Tuk Mas
sendiri maupun beberapa prasasti yang tersebar di wilayah sekitarnya.
Memang hipotesis seakan sulit untuk bisa dipercaya dikarenakan memang di
lokasi situs Tuk Mas sama sekali tidak bisa dijumpai artefak maupun
situs-situs yang menunjukkan bekas sebuah istana ataupun kota kerajaan
sebagaimana situs Trowulan yang berkaitan dengan Kerajaan Majapahit
misalnya. Bahkan prasasti Tuk Mas sendiri justru bertuliskan huruf
Pallawa dengan bahasa Sansekerta yang dilengkapi dengan simbol-simbol
yang justru lebih mendekati tradisi dan ajaran Hindu, bukannya Budha
sebagaimana dianut Syailendra.
Tuk Mas merupakan gabungan dua buah kata, tuk yang berarti mata air, dan mas
yang berarti emas. Tuk Mas selanjutnya bisa dimaknai sebagai mata air
emas. Kenapa diistilahkan demikian? Para ahli memperkirakan bahwa
keberadaan prasasti Tuk Mas merupakan simbolisasi keberadaan aliran air
suci yang diibaratkan sebagaimana sungai Gangga di India. Meskipun tidak
mencantumkan angka tahun pembuatan prasasti yang jelas namun penggunaan
aksara Pallawa-Grantha, bisa diperkirakan bahwa prasati Tuk Mas
bertarikh 500-700 Masehi.
Di samping rangkaian tulisan, dalam prasasti Tuk Mas juga terdapat simbol-simbol gambar, diantaranya chakra (roda bergerigi 16) sebuah gada, dua buah purna kumbhas (tempat air), sebuah trisula (tombak bermata tiga) sebuah parasu (kapak), sebuah tongkat, sebilah pisau dan empat buah rosetta
bermotif rantai. Selain itu masih terdapat beberapa simbol yang hingga
kini masih belum bisa diungkapkan secara jelas rupa dan maknanya.
Keberadaan
prasasti Tuk Mas di wilayah Magelang semakin meneguhkan Magelang sebagai
daerah seribu candi. Prasasti, candi, situs-situs penting banyak
bertebaran di wilayah Magelang. Hal ini semakin mengindikasikan bahwa
wilayah ini pada masa lampau merupakan pusat Kerajaan Mataram Kuno yang
telah memiliki peradaban dan kebudayaan yang tinggi atau adiluhung.
Potensi sejarah ini seharusnya bisa didayagunakan sebagai potensi wisata
sejarah yang sangat menarik dan unik. Jika hal tersebut dapat terus
digali dan dikembangkan, maka orang tidak hanya akan mengenal Magelang
dengan Borobudurnya saja, tetapi akan lebih luas kepada candi-candi,
prasasti-prasasti dan situs-situs sejarah yang lainnya.

Jika langkah
ini kita sepakati bersama dan secara sebuah predikat Magelang sebagai
wilayah seribu candi tidak akan sulit untuk diraih. Melalui predikat
tersebut bukan tidak berlebihan jika Magelang “bisa menjual” potensi
wisata minat khusus yang berkaitan dengan situs sejarah yang tersebar
berserakan di setiap pelosok wilayah tersebut. Bukan tidak mungkin pula
jika langkah ini bisa memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan warga
Magelang secara umum. Sampeyan sepakat dengan saya? Matur nuwun.
terima kasih buat sumber
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Articles /
karya tulis /
magelangan /
mata air /
mataram /
mataram kuno /
pendidikan /
Pengetahuan /
sejarah /
tuk mas
dengan judul "Magelangan - Tuk Mas, Situs Mata Air Mataram Kuno". Anda bisa Menemukan artikel ini dengan link https://uchavision.blogspot.com/2015/04/magelangan-tuk-mas-situs-mata-air.html dan anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Magelangan - Tuk Mas, Situs Mata Air Mataram Kuno ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda, namun jangan lupa untuk meletakkan link Magelangan - Tuk Mas, Situs Mata Air Mataram Kuno sumbernya.
Anda Mungkin Menyukai:
0 komentar:
Post a Comment
> Berkomentar yang bijak ya sob.
> No Sara
> Ane berhak menghapus pesan yang gak masuk akal